Minggu, 15 Februari 2009

Dilarang Makan Es Cream

Di bulan ini sebaiknya kamu menjauhi ICE CREAM, jangan coba – coba memakannya, kalau kamu nggak ingin ketiban sial selama sebulan!”

Dahi Chandra langsung berkerut, tak percaya campur kaget, ditambah bingung.

Jangan makan Ice Cream? No Way. Ice Cream adalah makanan favoritnya, jangankan puasa sebulan, sehari aja nggak tahan.

“Trus kalau aku ga makan ice cream selama sebulan, aku bakalan dapet apa?” Rupanya dia nggak mau kalah

“Apapun keinginanmu pasti terkabul!”

“Emang bener???” Chandra masih ga percaya, di samping sahabat – sahabatnya cekikikan menahan tawa, melihat sahabat mereka yang untuk pertama kalinya diramal.

“Percaya ngggak percaya!!!”

***

“Chan, sekarang kamu mau gimana?” Tanya Dhini, sahabat Chandra, begitu mereka meninggalkan si peramal itu.

“Gimana apanya?”

“Itu, masalah jangan makan ice cream sebulan itu tuh, kamu percaya kan?” Dhini bertanya penasaran.

“Nggak!” Jawab Chandra enteng dan singkat, yang disambut dengan pekikan keras sahabat -sahabatnya.

“Peramal pasaran gitu dipercaya. Kalian mikir ga sih, ice cream itu makanan favoritku, bagi aku tiada hari tanpa ice cream, always ice cream, and forever ice cream” Ceramah Chandra panjang lebar, nggak mau tau soal ramalan itu, baginya sekali ice cream tetep ice cream, HIDUP ICE CREAM!.

“Terus???”

“Yah, aku tetep makan ice cream, kapanpun aku mau, nggak ada dalam sejarah hidupku aku nggak makan Ice Cream!” Chandra tetep kukuh dengan pendiriannya.

“Terus kalau bener kamu bakal kena sial, gimana?” Giliran Rei yang bertanya.

Chandra langsung berhenti berjalan, berbalik menghadang Rei, matanya meloto kesal.

“Tenang aja lagi, aku ambil resiko deh, paling juga sialnya nggak seberapa. Kalau nggak makan Ice Cream itu baru namanya sial!”

“Ya udah, tanggung sendiri resikonya!”

***

Ternyata ramalan itu nggak bisa dianggap enteng, belum ada sejam meninggalkan si peramal itu, Chandra sudah kena dampaknya.

Gara – gara nggak tahan melihat gambar Ice Cream yang dipajang di Etalase Toko Ice Cream. Chandra langsung membelinya.

Dan hasilnya, karena nggak tahan mau mencobanya, tanpa piker panjang dilahapnya Ice Cream itu bulat – bulat.

“Huaaa! Dingin!” teriaknya, tak tahan, membuat orang – orang disekitarnya memperhatikannya dengan tampang bingung plus geli.

“Makanya pelan – pelan dong makannya, kelihatan banget rakusnya!” Omel Rei Sewot.

Mendengar omelan Rei, Chandra hanya menganggukan kepala, mulutnya tidak bisa bicara, kedinginan. Dia benar – benar malu dibuatnya. Baru kali ini dia makan Ice Cream seperti ini.

Nggak cuma itu, begitu dia keluar dari Toko Ice Cream itu, tak sengaja kakinya tersanggkut sesuatu. Hasilnya, dia jatuh, dan Ice Cream yang baru dibelinya juga jatuh.

“Wah! Jangan – jangan ramalan itu bener!” Kata Rei menahan geli, tapi sedikit khawatir.

“Diam! Siapa bilang?! Cuma kebetulan kok!” Chandra nggak mau kalah, di bBantu Dhini, dia berusaha bangun, lututnya luka, membuatnya sulit berjalan.

“Tapi mungkin aja kan?” Dhini meyakinkan, yang langsung disambut dengan pukulan pelan Chandra di kepalanya.

“Kalian ngedoain aku nih? Nggak mungkin, lagi, pasti cuma kebetulan. Cuma kebetulan ngerti”

“Ya Udah!”

***

’Kebetulan’, cuma itu yang ada dipikiran Chandra, walaupun sedikit takut, tapi dia nggak mau ngalah sama yang namanya ramalan picisan itu.

’Kebetulan’ cuma itu kata yang mampu mengusir rasa takut dikepalanya itu.

Tapi itu nggak cuma kebetulan belaka, kesialan yang menimpanya setelah itu, semakin menguatkan pikirannya, bahwa ramalan itu bener, nggak ada bohongnya.

Saat itu, ibu mengajak Chandra ke sebuah acara amal, yang diadakan oleh sebuah Yayasan, So pasti Chandra seneng, apalagi dia bisa nyoba gaun yang baru dibelinya.

Yang membuatnya tambah seneng, diacara itu disediakan ICE CREAM sebagai makanan penutupnya, walaupun Ice Cream murah yang biasa ada di Mini Market, tapi asal Ice Cream, pasti diserbu habis Chandra.

Sambil makan Ice Creamnya, dia asik berkeliling melihat keadaan sekitar, tanpa dia sadari, serombongan anak – anak berlari ke arah Chandra, menyenggolanya keras – keras, membuat Ice Creamnya terbang sesaat, dan jatuh tepat digaunnya dengan bunyi ‘plup’ pelan.

Malu? Jelas aja, apalagi cowok incerannya, yang juga anak sahabat ibunya, melihat kejadian itu. Bukannya nolong, dia malah tersenyum geli menahan tawa, membuat Chandra malu, tapi juga sebel.

Yang ini lain lagi ceritanya, begitu bel istirahat sekolah berbunyi, Chandra langsung tancap gas. Seperti biasa, dia langsung lari ke kantin depan sekolahnya, membeli Ice Cream.

Saat perjalanan kembali ke kelas, saking asiknya menjilati Ice Creamnya, dia nggak memperhatikan keadaan sekitarnya. Hasilnya dia nabrak tangga yang dipasang penjaga sekolah buat ngebetulin atap sekolah. Ditambah lagi tangga itu jatuh menimpanya.

Lengkap sudah penderitaannya, akhirnya dia tahu makna dari Pribahasa ’Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula’, maknanya ? Ya Sakit. Terus temen - temennya, bukannya nolongin, malah asyik ngetawain.

”Bantu Kek, temen lagi susah juga.”

***

”Gimana nih, kayaknya ramalan itu bener deh!?” Akhirnya Chandra menyerah kalah, dan mengakui ramalan itu bener.

”Trus kamu mau gimana?”

”Mana aku tau! Makanya aku nanya kalian, kasih saran gitu” Chandra bersandar di tembok belangkang sekolah, kelelahan menerima kesialannya. Baru seminggu aja, aku udah penyok kayak gini, apalagi sebulan, bisa - bisa aku sudah menghadap yang kuasa”

”Kan sudah kami bilangin, mendingan kamu jangan makan Ice Cream lagi, cuma sebulan jugaan, ntar kalau udah lewat kamu bisa makan lagi, sampai pabriknya juga kalau kamu abisin nggak apa - apa!”

”Maunya juga gitu, tapi emang bakalan berhasil? Kemaren mama coba - coba buat Ice Cream sendiri, belum makan aja aku kena sial, apa lagi kalau aku makan!” Chandra tambah uring - uringan.

”Kenapa?” Tanya dua sahabatnya kompak.

”Begitu Mama manggil, aku langsung lari, hasilnya aku jatuh, terus kakiku keseleo” Cerita Chandra, sambil memijit - mijit kakinya yang masih sakit itu.

”Ye, Itu salah kamu” Omel Dhini, sebel. ”Chan menurut aku, rasa suka kamu sama Ice Cream itu sudah keterlaluan, kamu rela ninggalin cowok, cuma karena Ice Cream, ujian juga, segala macem deh”

”Iya, mungkin sudah saatnya kamu sadar bahwa nggak baik makan Ice Cream terus - terusan” Rei juga ikut - ikutan ngomelin Chandra.

”Kalian ini temen aku nggak sih? Aku ini lagi minta saran, bukan omelan!” Gara - gara dari pagi belum dapet Ice Cream, Chandra jadi gampang marah - marah.

”Ya Udah, saran kami jangan makan Ice Cream!”

***

Bulat sudah keputusan Chandra, dia nggak bakal makan Ice Cream lagi, tentunya cuman sebulan aja, ntar kalau sudah lewat, mungkin bisa sedikit dipertimbangkan.

Ternyata puasa Ice Cream bagi Chandra sulit juga, lebih sulit daripada nggak makan nasi sama sekali. Kalau laper dia bisa tahan, tapi Ice Cream, Never.

Biasanya, tiada hari tanpa Ice Cream bagi Chandra, tapi sekarang jadi puasa Ice Cream setiap saat. Gara-gara puasa Ice Cream, dia jadi sering uring-uringan, pinginnya marah melulu.

Di sekolah, dia jadi sering ngelamun, ngebuat temen - temennya jadi sebel, nggak ada celoteh cerewet Chandra. Setiap di ajak jajan di kantin, pasti selalu nolak.

”Nggak ah, kalau aku kekantin, ntar liat Ice Cream, trus aku nggak tahan, aku beli deh. Dan aku bakal ketimpa sial lagi!” Alasannya tiap kali di ajak kekantin.

”Yee... emangnya di kantin, cuman ada Ice Cream doang? Jajan yang lain kek, asal jangan Ice Cream aja!” saran Dhini, bingung ngebujuk sahabatnya ini, yang sudah lama nggak jajan semenjak puasa Ice Cream.

“Males, kalau nggak bisa makan Ice Cream, jajan juga nggak!”

”Trus kamu mau ketiban sial lagi?” Rei jadi sebel melihat sahabatnya itu, matanya melotot, hampir keluar.

”Ya nggak lah, emang enak, tapi ini lebih buruk dari nasib sial tau. Tanpa Ice Cream, hidupku terasa hampa, badan lemes, kepala pusing, dunia terasa berputar!”

Orang rumah juga kena getahnya, adiknya yang lagi asik makan Ice Cream sambil nonton TV, dia marahi abis - abisan, gara - gara dia makan di depan Chandra, so pasti adiknya yang baru masuk TK itu, nangis, dan ngebuat Ibu marah - marah, dan menghukum Chnadra, dengan terpaksa Chandra mesti motong rumput di halaman, gara - gara puasa Ice Creamnya.

***

”Mas! jual Ice Creamnya, jangan disini, aku nggak beli, sana pergi. Nggak tahu orang lagi puasa juga, Hus... hus... hus... !!”

Ternyata nggak cuma orang - orang dirumah dan di sekolah kena imbas dari puasa Ice Cream Chandra, bahkan penjual Ice Cream yang biasa lewat di depan rumahnya juga ikut kena.

Jelas aja si Mas penjual Ice Cream bingung, biasanya Chandra bakal teriak minta beli, bahkan dia bela - belain lari ngejer si Mas, begitu si Mas sudah pergi jauh, cuma buat beli Ice Cream.

”Biarin aja Mas, kakak Adit lagi Error!” satu suara menjawab kebingungan si Mas penjual Ice Cream, rupanya Adit, adik Chandra yang super imut.

Walau nggak ngerti arti kata ’Error’, si Mas penjual Ice Cream pergi juga, daripada dia harus ngedengerin omelan Chandra, duit ga dapet, kuping panes iya.

”Adit, kok ngomong gitu sih? Kakak nggak suka, Adit usil!” sekarang giliran Adit yang kena omelan, begitu si Mas penjual Ice Cream pergi.

”Emang bener Kakak error khan?! Biasanya Kakak bakal teriak - teriak manggil penjual Ice Cream, tapi kok sekarang malah diusir!?” Kata Adit lugu.

”Cerewet, bukan urusanmu, sana masuk gih! Kakak jewer baru tahu rasa. ” Ancam Chandra, hasilnya Adit nangis dan ngelapor ke Ibunya. Bukannya Adit yang kena jewer, malah Chandra yang dijewer Ibunya.

***

Uring - uringan gara- gara puasa masih terus berlanjut, bahkan makin parah. Ngebuat dua sahabatnya bingung, kesel, sekaligus kasihan.

Mereka bingung, dan berusaha mencari cara agar sahabatnya itu nggak semakin uring - uringan. Tapi sampe kepala mereka nyaris pecahpun, nggak dapet ide sama sekali.

Mereka sudah menanyakan sama orang - orang, baca buku, bahkan ngeliat di Internet, tapi hasilnya nihil, mungkin penyakit Chandra itu termasuk langka, 1 berbanding jumlah manusia di dunia ini, bahkan di alam semesta ini

Akhirnya mereka memutuskan mencoba, bagaimana kalau Ice Cream itu di campur dengan bahan makanan lainnya? Asal bisa dimakan apapun boleh.

”Nih Cobain!”

Akhirnya setelah lama berusaha dan mencoba, makanan dari bahan campuran Ice Cream akhirnya jadi juga.

”Apaan ini?!” Tanya Chandra bingung sekaligus ngeri, melihat makanan didepanya yang terlihat mengenaskan.

”Ini Kue Tart Ice Cream?” Jawab Dhini bangga.

“Ice Cream? Kalian gimana sih, kalian kan tau kalau aku nggak boleh ma...”

”Kami tahu...” Potong Rei cepat - cepat ”.. kamu memang nggak boleh makan Ice Cream, tapi yang kami buat ini, Tart dari bahan Ice Cream, Ice Creamnya nggak kelihatan kok, tapi kalo di makan, Ice Creamnya pasti terasa.

”Aku nggak bakal kena sial kan?” Tanya Chandra meyakinkan, yang di balas gelengan pada dua sahabatanya.

Walaupun agak takut dilahap juga Tart itu, belum sempat di telan, Chandra langsung memuntahkannya, membuat kedua sahabatnya memandangnya, bingung.

”Kenapa?”

”Nggak enak...” jawab Chandra pelan, dan cepat, segera dia minum air yang sudah disediakan, banyak - banyak.

Nggak percaya, langsung Dhini dan Rei mencolek Tart yang baru mereka buat, begitu merasakannya, raut wajah mereka langsung berubah aneh.

”Tuh kan, aku emang nggak boleh makan Ice Cream, gara - gara makan Tart Kalian yang dari Ice Cream itu, aku sudah menanggung kesialan, sial harus ngerasain Tart yang paling nggak enak di dunia.

***

Gagal total! Rencana Rei dan Dhini, buat menghibur sahabat mereka yang lagi uring - uringan gara - gara puasa makan Ice Cream itu gagal total.

Bukannya Chandra jadi seneng, malah buat dia jadi tambah uring - uringan, dan nyebelin.

Nggak cuma Chandra, mereka juga jadi uring - uringan mikirin rencana apalagi yang bisa ngebuat Chandra nggak nge - bete - in lagi. Yang pasti Tart yang mereka buat waktu itu, gagal dan hancur. Mereka baru sadar kalau Tart yang mereka buat, bukannya pake gula halus, tapi pake garam. Sudah pasti Tart itu asin banget.

”Hai!!! Seseorang menyapa mereka, begitu ceria dan hangat. Saat mereka menoleh, ternyata yang menyapa mereka adalah...

”Chandra???” Chandra hari ini menimbulkan tanda tanya besar di Kepala Rei dan Dhini.

Alih - alih Chandra yang lemes, lesu, yang uring - uringan yang ada di depan mereka, tapi Chandra sudah berubah, dia jadi ceria kembali, dan lebih sering tersenyum, mirip seperti Chandra yang dulu, yang masih gila Ice Cream.

”Chan, kamu kok?” Tanyak Dhini bingung.

”Kenapa? Bingung liat aku berubah? Tenang aja lagi, aku udah nggak makan Ice Cream lagi, males!” Jelas Chandra santai.

”Terus...?”

”Ini berkat adikku yang paling manis, lho!” Kata Chandra kemudian.

”Adit! Kok bisa?” Tanya Rei juga bingung.

”Kemaren dia ngasih aku coklat, tau nggak ternyata coklat itu rasanya enak banget, lebih enak dari Ice Cream!”

”Terus?”

”Sekarang aku jadi suka coklat, terus aku udah punya prinsip baru ’ Tiada Hari Tanpa Coklat’, terus buat Ice Creamnya ’ Bye- bye Ice Cream’”

***

Dan sekarang Chandra sudah nggak uring - uringan lagi, sudah nggak lemes, lesu dan gampang marah. Sekarang Chandra sudah kembali ke dirinya yang dulu lagi, cuma yang berubah hanyalah makanan yang dia kejar, bukan Ice Cream lagi, tapi coklat.

Seperti dulu, begitu bel berbunyi, dia pasti langsung kabur ke kantin, tapi yang dia beli cuma coklat, nggak cuma satu tapi banyak.

Kalau jalan - jalan ke Mall, dia juga sering mampir ke Toko Coklat, beli macem - macem coklat, sekarang Chandra jadi Penggila Coklat.

Dan yang paling penting, kalau Chandra makan coklat, dia nggak bakal kena sial, dan badannya nggak penyok - penyok.

***

Genap sebulan sudah ramalan itu, ramalan yang mengatakan kalau Chandra bakal kena sial, jika dia nekat makan Ice Cream, ramalan yang ngebuat Chandra pernah uring - uringan.

”Gimana, sudah sebulan nih?! Kamu bakal balik makan Ice Cream lagi?” Tanya Dhini, saat istirahat siang di Kantin.

”Nggak ah, Coklat lebih enak!” Jawab Chandra enteng, dia asik makan coklatnya yang ketiga.

”Oo.... jadi kacang lupa sama kulitnya, gitu ” Sindir Rei, padahal nggak ada hubungannya.

”Siapa yang ’kacang lupa sama kulitnya?”’ Chandra langsung naik darah” ”Tau nggak ramalan itu bener, semenjak aku nggak makan Ice Cream, apa yang aku pengen, pasti terkabul.”

”Berkat coklat ini, cowok yang aku taksir, jadi dekat sama aku, ternyata dia juga penggemar coklat. Berkat coklat, aku sama dia bisa nyambung. Aku pikir, mungkin nggak lama lagi kami bakal jadian!”

***

”Di bulan ini sebaiknya kamu menjauhi coklat, jangan coba-coba memakannya, kalau kamu nggak ingin ketiban sial tiap memakannya!”

Dahi Chandra langsung berkerut, begitu juga dua sahabatnya, mulut mereka ternganga, tak percaya, campur kaget ditambah bingung, plus geli.

”Lagi!?”celetuk Rei dan Dhini bersamaan.

”Mbak sensitif ya, sama aku? ”Tanya Chandra geram, tangannya mengepal, menahan marah.

”Maksud anda?”

”Bulan lalu Ice Cream, sekarang coklat, bulan depan apa lagi? Lama- lama aku nggak boleh makan apapun , trus aku mesti makan apa!? Mbak benci sama aku ya? Sebelll....!!!”

Like a Pink Princess!!!!..

Aduh gayanya!!!

Wika, Andin dan Widya....